Pendidikan Agama, Etika dan Moral
by
Prof.dr.H.M.
Quraish Shihab, MA
IAIN Syarif
Hidayatullah Jakarta
I.
Alasan Pemilihan Judul
Belakangan ini
Budaya Barat sangat menguasai Indonesia, bahkan Dunia. Telah banyak pemuda pemudi
yang mulai berpaling dari budaya Timur yang tertutup ke budaya Barat yang biasa
disebut “keterbukaan”. Dan disinilah mulai marak terjadi permasalahan etika dan
moral. Hasil pendidikan yang mulai kebarat baratan mulai masuk ke pribadi para
pemuda itu sendiri. Oleh karena itu, disinilah diperlukannya kembali pendidikan
Agama, Etika, dan Moral.
II.
Intisari Jurnal
Di makalah ini
dijelaskan pertama bagaimana kondisi peradaban di dunia saat ini yang mulai
dominan dari peradaban Barat dan ke-pragmatisan. Oleh karena itu disini ada
beberapa pengajaran atau pendidikan untuk meluruskan hal tersebut.
1.
Pengajaran dan Pendidikan Agama
Pengajaran dan pendidikan agama dewasa ini
bukanlah satu hal yang mudah. Ia bahkan jauh lebih sulit dari pada masa-masa
yang lampau. Kesulitan itu tidak hanya dirasakan oleh sementara pengajaran yang
memeiliki keterbatasan pengetahuan, tetapi yang berpengetahuan memadai
sekalipun.
Pengajaran ini menitik beratkan pada system
hafalan, pemberian kisah kisah yang menyentuh, dan pemberian nasihat yang
teladan. System ini mengandalkan pengalaman yang dapat dihayati dimengerti oleh
manusia bahkan ditangkap melalui panca indera, sehingga mudah disebarluaskan.
Apalagi bahasa yang digunakannya adalah bahasa yang gampang dimengerti dan
disertai dengan pembuktian empiris.
Banyak keluhan yang kita dengar tentang
pendidikan agama. Keluhan tentang kurangnya alokasi waktu pendidikan agama,
bukanlah satu-satunya keluhan. Di sisi lain, keluhan ini dapat ditanggulangi
dengan alternatif lain yaitu kerjasama semua tenaga kependidikan bersama guru
agama untuk melakukan pendidikan agama, apalagi penambahan alokasi waktu di
samping merupakan sesuatu yang tidak mudah, juga hanya akan menambah penekanan
pada pengajaran atau sisi akliah yang dampak negatifnya
Keluhan yang lebih penting untuk
diperhatikan antara lain adalah apa yang dinami sementara pakar dengan
hilangnya kehadiran Tuhan Yang Maha Esa dalam pendidikan dan pengajaran,
termasuk pendidikan agama. Peranan Tuhan Yang Maha Kuasa setelah direduksi oleh
ilmu-ilmu sekuler yang mengembalikan segala sesuatu pada alam dan
hukum-hukumnya tanpa menyebut keterlibatan Tuhan menetapkan hukum-hukum itu dan
kuasa-Nya. Sifat-sifat-Nya yang indah pun direduksi pula oleh pengajaran agama.
2.
Pendidikan Akhlak
Akhlak-terhadap Tuhan, manusia, ling-kungan
dan diri sendiri berkaitan sangat erat dengan pendidikan; baik kahlak yang
dinilai sebagai buah pendidikan, maupun sebagai tujuannya. Bahkan ia berkiatan
erat dengan pendidikan karena akhlak yang ditampilkan atau keteladanan
merupakan guru yang paling berhasil dalam pendidikan akhlak.
Pengetahuan diraih dan dikembangkan oleh dan
melalui akal manusia. Seandainya tingkah laku kita hanya diarahkan oleh akal,
walau berbeda antara seorang dengan yang lain, namun substansinya sama
kaidah-kaidah umum yang disepakatipun cukup banyak yang menyulitkan adalah
bahwa jiwa manusia ikut mempengaruhi tingkah lakunya, sedang jiwa memperoleh
arahan dari banyak sumber yang berbeda, seperti kepentingan pribadi atau
kelompok, dorongan materialisme, fanatisme, hawa nafsu dan lain-lain, sehingga
pohon pengetahuan yang tumbuh, dikelilingi oleh sekian tumbuhan lainnya bahkan
tidak jarang dililit oleh benalu.
Berbeda dengan binatang, manusia adalah
makhluk hidup yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya bahkan
mengubahnya. Di sisi lain, manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat
melepaskan diri dari masyarakat, sehingga keadaan masyarakat dapat berdampak
pada hasil pendidikannya. Dengan demikian, terjadi interaksi timbal balik, dan
dari sini pendidikan harusmenjadi upaya sadar untuk mengarahkan peserta didik
sesuai dengan nilai-nilai yang didambakan oleh masyarakat,
3.
Pembinaan dan Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan
Era globalisasi adalah era informasi dengan
segala nilai baru yang ditawarkannya. Agama yang menyatakan dirinya sesuai
dengan setiap waktu dan tempat, tidak menerima atau menolak suatu idea dan
nilai, tanpa merujuk kepada sumber ajarannya
Agama mengarahkan hati dan pikiran manusia
untuk memahami alam, kehidupan, dan kedudukannya sebagai manusia serta peranan
yang diharapkan darinya. Untuk maksud tersebut, agama mengamanatkan
nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut ada yang bersifat mendasar, universal dan
abadi, dan ada juga yang bersifat praksis, lokal, dan temporal, sehingga dapat
berbeda antar satu tempat/waktu.
Dalam agama Islam, Apa bila ma’ruf telah
kurang diamalkan maka dia menjadi munkar dan apabila munkar telah tersebar maka
dia menjadi ma’ruf. Pandangan ini dapat diterima dalam konteks budaya,
tetapi penerimaan atau penolakannya atas nama agama harus dikaitkan dengan nilai-nilainya
yang bersifat universal dan mendasar.
III.
Manfaat Isi Jurnal Bagi Perubahan Mahasiswa dan Masyarakat
Pada Umumnya
Para Pemuda, Mahasiswa, dan Masyarakat
diharapkan dapat kembali mempunyai akhlak, agama, dan etika yang pantas
segolongan mereka. Mulai kembali memajukan peradaban timur yang mulai punah.
Jadi diharapkan isi Jurnal ini dapat bermanfaat bagi semua orang yang
membacanya. Diharapkan agama, akhlak, dan etika para mahasiswa mamou
memperlihatkan bahwa mereka itu mahasiswa.
IV.
Penutup
1.
Kesimpulan
Saat
ini pola tingkah laku masyarakat mulai dominan kea rah peradaban barat. Mulai
memusnahkan peradaban Timur. Jadi sebelum semua peradaban Timur punah,
diharapkan pendidikan agama, akhlak, dan etika kembali dilaksanakan sebaik
mungkin, agar semua masyarakat kembali kea rah agama yang benar, akhlak yang
sopan, dan etika yang pantas.
Pembelajarannya
antara lain Pengajaran dan Pendidikan Agama, Pendidikan Akhlak,
dan Pembinaan
dan Pengembangan Nilai-nilai Keagamaan.
2. Saran
Sebaiknya
disini juga dicantumkan contoh dari pelanggaran agama, akhlak dan etika. Jadi
para pembaca bisa mengetahui bahwa hal tersebut salah.

0 komentar:
Posting Komentar